• Terbaru

    Tuesday, 29 January 2013

    Pendidikan Berkarakter: Upaya Memanusiakan Manusia


    Pendidikan sebagaimana yang dikemukakan oleh John Dewey dipandang sebagai proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya pikir maupun daya perasaan, menuju kearah tabiat manusia. Hal ini didasarkan pada pernyataan bahwa manusia merupakan makhluk yang perlu di didik dan dapat di didik, karena manusia lahir tanpa pengetahuan dan tidak mengetahui apapun. Oleh karena itu, untuk menjadi manusia seutuhnya ia perlu mendapatkan pendidikan yang layak. Sehubungan dengan ini M.J Langeveld (1980) mengatakan bahwa manusia ialah Animal Educandum. Idad Suhada menyebutkan ada tiga prinsip antropologis yang mendasari perlunya manusia mendapatkan pendidikan agar dapat mendidik diri dan lingkungannya, yaitu: (1) prinsip historitas, (2) prinsip idealitas, (3) prinsip faktual/posibilitas. Pertama, ditinjau dari prinsip historitas, manusia selalu terpaut dengan masa lalunya sekaligus mengarah ke masa depan untuk mencapai tujuan hidupnya. A. Heris Hermawan mengutip dari Bagus menyatakan bahwa tujuan adalah keadaan aktualisasi terakhir dari suatu bentuk, proses yang tidak memerlukan perkembangan lebih lanjut lagi.
    Ketika manusia sudah mengetahui dari mana dia berasal, pengetahuan ini diharapkan memberikan penyadaran terhadap manusia akan siapa dirinya dan kemana ia akan menuju. Setelah manusia sudah mengetahui asalnya dan akan kemana ia menuju maka tinggal bagaimana ia menjalani kehidupan ini. Proses menjalani kehidupan inilah yang sebenarnya memerlukan pengetahuan dan pendidikan agar apa yang ia tuju/cita-citakan dapat tercapai dengan baik dan lancar sesuai yang ia harapkan. Kedua, prinsip idealitas memandang manusia sebagai makhluk yang ideal. Sosok manusia ideal merupakan gambaran manusia yang dicita-citakan atau yang seharusnya. Oleh karena itu, untuk menjadi manusia ideal perlu upaya untuk mewujudkannya dan memang harus diupayakan, salah satunya ialah melalui proses pendidikan. Sebab, pendidikan itu sendiri bertujuan untuk memanusiakan manusia dalam arti menjadikan manusia sejati seperti tujuan awal penciptaanya yaitu sebagai wakil Tuhan di bumi. Sosok manusia ideal yang diinginkan oleh bangsa kita ialah manusia yang beriman kepada Allah Yang Maha Esa, berbudi pekerti mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang berdemokratis serta bertanggung jawab (UU No. 20 Tahun 2003 Bab II pasal 3). Hal ini sangat penting mengingat Indonesia memiliki batas geografis yang luas terbentang dari Sabang sampai Merauke yang harus dijaga keutuhannya, dihiasi dengan ragam flora dan fauna yang mesti kita lestarikan, dan memiliki beragam variasi suku, ras, agama dan budaya yang harus dijaga dan kita lestarikan agar tercipta suasana hidup yang tenang, dinamis dan aman. Ketiga, prinsip faktual/posibilitas memandang bahwa manusia memiliki perkembangan yang dinamis berbeda halnya dengan perkembangan yang dimiliki makhluk lain sebut saja misalnya hewan yang memiliki perkembangan cenderung statis dan monotan. Sebagai makhluk Tuhan, manusia memang dibekali potensi untuk berbuat baik, potensi untuk berbuat jahat, daya pikir, potensi cipta, rasa, karsa dan sebagainya. Namun, dalam perkembangannya potensi tersebut mungkin ada yang terwujud dan mungkin ada pula yang tidak terwujud, mungkin ada yang berkembang dengan kodarat dan martabat kemanusiaannya dan mungkin ada pula yang kurang atau tidak berkembang sesuai dengan kodrat dan martabat dia sebagai manusia. Dengan demikian, untuk mengarahkan manusia pada kodrat dan martabatnya diperlukan suatu guide atau petunjuk yang jelas dan terarah agar tetap berjalan selaras dengan yang digariskan oleh Tuhan. Selain tiga prinsip diatas, Idad Suhada juga menyebutkan setidaknya ada lima prinsip antropologis yang mendasari bahwa manusia dapat di didik, yaitu: (1) prinsip potensialitas, (2) prinsip dinamika, (3) prinsip individualitas, (4) prinsip sosialitas, (5) prinsip moralitas. Prinsip potensialitas memandang bahwa manusia dianugerahi bentuk fisik yang sempurna dibandingkan makhluk lain dan tujuan pendidikan ialah menjadikan seseorang menjadi manusia ideal dengan segala potensi yang ia miliki seperti telinga untuk mendengar, mata untuk melihat dan membaca segala ciptaan Tuhan dan hati untuk berempati. “ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. (Q.S an-Nahl: 78) Al-Quran menjelaskan manusia memilki fitrah/potensi yang dimiliki manusia, yaitu manusia sebagai makhluk sosial artinya manusia membawa sifat ingin bergaul/bermasyarakat , sebagaimana diceritakan dalam surat al-Hujurat ayat 13 sebagaimana artinya berikut: “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal” Prinsip dinamika. Kehidupan manusia yang dinamis dan cenderung berubah-ubah mengharuskan proses pendidikan kita selaras dengan zamannya namun tetap untuk memfasilitasi peserta didik agar menjadi manusia ideal sebagaimana yang telah diuraikan diatas. Prinsip individualitas memandang manusia sebagai individu yang memiliki ke diri-sendirian (subjektivitas), bebas dan aktif untuk menentukan identitas dirinya, senggah praktek pendidikan harus diupayakan untuk memfasilitasi peserta didik agar mampu menjadi dirinya sendiri kearah yang lebih baik sesuai cita-cita bangsa ini. Selain itu, manusia sebagai makhluk individu mempunyai hak dan tanggungjawab dalam memenuhi kebutuhannya masing-masing terutama kebutuhan pendidikannya. Idealnya manusia mampu memenuhi kebutuhannya secara wajar, hidup sehat, mampu mengendalikan insting dan hawa nafsunya, serta mampu mewujudkan segala potensinya secara optimal, bebas dan bertanggung jawab serta mampu menjalankan peran indivualnya. Oleh karena itu, individualitas mengimplikasikan bahwa manusia dapat dididik. Prinsip sosialitas. Manusia semenjak kelahirannya di ciptakan Tuhan berbeda-beda dalam berbagai macam kultur dengan tujuan untuk saling mengenal antar sesamanya dan pendidikan hakikatnya berlangsung dalam keberagaman itu. Sebagai makhluk sosial, manusia hendaknya saling mengharagai, menghormati, saling memenuhi kebutuhannya. Dalam hal ini, pendidikan senantiasa mampu meberikan petunjuk/pengarahan agar kebutuhan individunya dapat terpenuhi secara layak tanpa mengabaikan hak dan kebutuhan orang lain. Di samping itu, individu harus saling membantu dalam memenuhi kebutuhan orang lain tanpa menelantarkan dirinya sendiri. Prinsip moralitas. Pendidikan bersifat normatif artinya berdasarkan sistem norma dan nilai yang berlaku.
    Free Website Visitors